Menjadi Orang Dayak di Jakarta dan Jawa

Kali ini saya sebagai orang Dayak ingin berbagi pengalaman pribadi ketika merantau ke Jakarta dan Jawa.

Lebih tepatnya lagi membahas tentang etnis atau identitas diri ketika ditanya asli mana atau orang apa.

Ya, kali ini artikelnya dalam bahasa Indonesia. Tidak membahas tentang teknologi atau sejenisnya. As I said, it is all about me. Saya memutuskan untuk menulis tentang ini karena saya rasa hal ini bakal menarik, lucu, dan unik. Haha.

Okay, first. Ternyata, selama ini, sejauh ini, mereka sekitar, sering mengira saya adalah orang Tionghoa. But exactly, saya sama sekali tidak ada darah Tionghoa sedikit pun. Dari bapak, mama, kakek, nenek, semua berdarah Dayak tidak ada campuran apapun.

Berikut ini adalah foto saya.

Aristo Rinjuang / Desember 23, 2016

Itu adalah foto saya yang terbaru. Di belakang ada penampakan sedikit. Kayak orang Tionghoa kah? Haha.

Sewaktu saya di Yogjakarta dulu, beberapa orang Jawa disana sudah tau saya orang Dayak. Mungkin dari nomor polisi kendaraan, logat / dialek, dan dari fisik / muka yang memang udah Dayak.

Oleh sebab itu, terkadang saya dipanggil "abang". Sering juga saya dipanggil "koko" karena dikira Tionghoa, terutama waktu di Jakarta. Kalau dipanggil "mas", itu adalah hal wajar kalau di Jawa. Pernah juga saya dipanggil kakak. Padahal kalau di Kalimantan, kakak itu untuk perempuan.

Dari mana? Asli mana? Orang apa?

3 pertanyaan di atas adalah pertanyaan yang mengarah kepada etnis atau identitas diri akan adat istiadat suatu daerah. Ya, beginilah kita orang Asia.

Dari mana? Ini adalah pertanyaan level 1. Haha. Ketika dihadapkan dengan pertanyaan ini, saya selalu jawab dari Pontianak, pernah juga saya tambahkan Kalimantan Barat, karena beberapa orang tidak tahu Pontianak itu dimana. Haha.

Asli mana? Ini adalah pertanyaan level 2. Ketika diberikan pertanyaan ini, saya selalu jawab asli Kalimantan Barat. Karena, bapak saya lahir di Landak, mama saya lahir di Kubu Raya, saya lahir di Pontianak.

Orang apa? Ini adalah pertanyaan level 3. Yang dimana menginginkan jawaban yang lebih spesifik. Saya jawab, orang Dayak. Tepatnya Dayak Kanayatn.

Ketika tau saya orang Dayak

Maka mereka pun terkadang stunning / tercengang dan keluar deh pertanyaan-pertanyaan yang seperti ini. Haha.

Terkadang, ada juga pertanyaan yang terkesan magical seperti ini.

Then they become stunning again and ask me how to do that but I have no idea about it. XD

Kesimpulan

Saya bukan orang Tionghoa. Jadi gak merayakan Imlek. Pernah ada beberapa kawan saya yang ngucapin selamat Imlek, minta angpao dan kue keranjang. Haha. Bahasa Tionghoa juga saya tidak mengerti, yang saya tau hanya "kamsia", yang artinya terima kasih. Kalau bahasa Dayak saya fasih, tepatnya bahasa Dayak Kanayatn atau yang biasa disebut bahasa Ahe / Nana'. Ada juga kawan saya kira saya ini orang Sunda atau asalnya dari Jakarta / Jawa Barat. Pernah juga saya disindir sebagai orang Jepang atau Korea. Haha. XD

Ya, sebagai orang Dayak, budaya yang saya tahu itu ngelapas, kampunan, pamali, tulah, minuman tuak, nyagahatn, Gawai Dayak, lagu-lagu Dayak asal Kalimantan Barat, dan banyak lah (gak tau namanya apa).

Kesannya orang Dayak galak dan keras. Kalau keras saya setuju, memang benar. Kalau galak, mungkin lebih galak orang Madura dan Batak (kali ya?). Orang Dayak itu logatnya, nada diayun, terus terkadang dihentak. Ngomongnya suka pakai aok (yang artinya iya), lah, kah, dan sebagainya. Saya pribadi kalau ngomong terkadang pakai English sedikit. Haha.

Kalau barang-barang tradisional, saya sendiri orang Dayak gak punya baju Dayak yang masih tradisional, kalau batik Dayak saya punya banyak. Mahkota / headgear, saya gak punya. Tombak dan sumpit saya gak punya. Kalau mandau, saya punya. Kalau kami Dayak Kanayatn, mandau kami namanya Tangkitn. Itu bentuknya melengkung, panjang, dan aslinya tidak bersarung. Punya saya pribadi itu umurnya udah puluhan tahun (pokoknya dah tua banget, gak tau umurnya berapa).

Orang Dayak suka makanan yang hambar dan asin. Tidak suka makanan yang pedas dan manis. Beda dengan orang Sumatra dan Jawa pada umumnya. Kalau saya pribadi malah suka makanan-makanan Jepang. XD

Beberapa orang Dayak, khas dengan namanya. Contohnya seperti saya yang memiliki nama belakang Rinjuang, padahal itu bukan marga. Beberapa juga mengadopsi nama-nama dari Yunani dan Arab karena agama. Ada juga yang mengadopsi dari Jawa, mungkin karena asimilasi kultur.

Kesannya magical. Wuakaka. Dikit-dikit santet. Padahal gak juga. Saya pribadi malah gak bisa santet. Orang Dayak itu biasanya blak-blakan, kalau tidak suka sama orang ditunjukin, kalau suka juga ditunjukin. Jadi saya rasa santet bukan budaya Dayak.

Okay, sekian. Saya buat artikel ini hanya untuk menjelaskan identitas saya yang mungkin selama ini kurang jelas. Sama sekali tidak bermaksud menyinggung pihak manapun.